Apa Penyebab Naik Turunnya Harga Pasar?
  1. Home >
  2. Blog >
  3. Apa Penyebab Naik Turunnya Harga Pasar?

Apa Penyebab Naik Turunnya Harga Pasar?

PropertiLord - 11 Jun 2022
Share
thumbnail
Apa Penyebab Naik Turunnya Harga Pasar?Bagi investor, naik turunnya harga di pasar saham sudah menjadi hal yang biasa. Banyak dari mereka yang meraup keuntungan, namun ada juga yang merugi akibat dari fenomena ini.

Pada dasarnya, harga pasar bersifat fluktuatif, bisa naik dan juga turun. Bagi sebagian investor, pergerakan yang fluktuatif tersebut justru merupakan seni dalam berinvestasi dan membuka peluang untuk meraup keuntungan (capital gain). Jika pasar bersifat statis, atau tidak ada kenaikan maupun penurunan, investor tidak akan tertarik dan tidak memungkinkan mendapat keuntungan.

Apa sih sebenarnya yang membuat harga pasar saham naik turun?

Tentunya, harga di pasar saham dapat naik dan turun menyesuaikan kondisi pasar. Lalu apa sih sebenarnya yg mempengaruhi naik turunnya harga di pasar saham?

  1. Permintaan dan Penawaran

    Pada hakikatnya, faktor yang mempengaruhi naik turunnya harga di pasar saham adalah permintaan (demand) dan penawaran (supply) yang ada di pasar. Masih ingat kan teori ekonomi mengenai hukum permintaan dan penawaran?


    Dalam hukum permintaan, ketika permintaan pasar tinggi maka harga akan naik, sedangkan ketika permintaan pasar rendah maka harga akan turun. Sebagai contoh, ketika saham A sedang diburu oleh banyak investor, maka investor akan berlomba-lomba mendapatkan saham tersebut. Mereka akan memasang harga diatas harga normal. Hal ini menyebabkan harga saham A melejit naik.


    Begitu juga sebaliknya, ketika permintaan pasar akan saham A menurun maka investor akan menjual saham mereka dibawah harga normal. Mengapa demikian? Karena pada umumnya saham yang banyak dilepas oleh investor-investor, sedang mengalami penurunan entah dari segi performa, pendapatan, atau bahkan sedang terkena kasus. Maka, sedikit investor yang mau masuk dan membeli saham tersebut dan menyebabkan investor yang masih memiliki sahamnya akan menjual milik mereka dibawah harga normal. Hal ini menyebabkan harga saham perusahaan tersebut menurun.


  2. Kondisi Ekonomi Makro

    Kondisi ekonomi makro memiliki dampak langsung pada naik turunnya harga saham, misalnya naik turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia, tingkat inflasi, hingga tingkat pengangguran.


    Tingkat suku bunga memiliki hubungan yang erat dengan harga saham. Ketika tingkat suku bunga naik, harga saham cenderung turun. Hal ini terjadi dikarenakan banyak investor memindahkan instrumen investasinya ke deposito bank, yang mana mengakibatkan banyaknya saham dijual dan menurunkan harganya.


  3. Kebijakan Pemerintah

    Kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi harga saham, meskipun sebenarnya kebijakan tersebut masih dalam tahap wacana dan belum terealisasi. Beberapa contoh kebijakan pemerintah yang menimbulkan volatilitas harga saham meliputi kebijakan ekspor impor, kebijakan perseroan, kebijakan utang, dan kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA).


  4. Panic Attack

    Panic attack sebenarnya sering terjadi dalam pasar saham, meskipun sebenarnya kondisi ini tidak didasari oleh analisis yang rasional. Banyak investor yang melakukan panic selling dikarenakan berita-berita yang memicu kepanikan, seperti berita mengenai Peperangan yang terjadi antara negara Rusia dan Ukraina tempo hari, sehingga mereka menjual saham-saham dalam jumlah besar dan menyebabkan harga saham anjlok.


    Hal sebaliknya juga sering terjadi, yaitu panic buying atau lebih dikenal FOMO (Fear of Missing Out). Hal ini kerap terjadi ketika investor berbondong-bondong membeli suatu saham perusahaan. Kondisi tersebut menyebabkan harga saham perusahaan tersebut melejit naik, seperti pada saat saham perusahaan besar Bank Central Asia (BBCA) melakukan stock split.


  5. Fundamental Perusahaan

    Fundamental perusahaan biasanya menjadi faktor utama yang selalu dicermati dalam berinvestasi saham, apalagi jika kalian berencana untuk memegang saham tersebut dalam waktu yang lama. Perusahaan dengan fundamental yang baik cenderung memiliki tren harga saham yang naik. Sedangkan perusahaan dengan fundamental buruk cenderung memiliki tren harga saham yang turun.


    Secara umum, kamu bisa mengamati fundamental perusahaan dari laporan keuangan ataupun laporan tahunan perusahaan. Dari laporan tersebut kamu dapat melihat bagaimana kinerja mereka beberapa tahun terakhir dan melihat prospek mereka kedepannya.


  6. Aksi Korporasi Perusahaan

    Aksi korporasi yang dimaksud berupa kebijakan yang diambil oleh jajaran manajemen perusahaan. Dampaknya dapat mengubah hal-hal yang sifatnya fundamental dalam perusahaan. Beberapa contoh dari aksi korporasi adalah terjadinya akuisisi, merger, right issue, divestasi, atau stock split.


    Beberapa kebijakan tersebut dapat menaikkan ataupun menurunkan harga saham. Biasanya, perusahaan yang melakukan akuisisi dan merger akan mengalami kenaikan harga pada saham mereka. Sedangkan perusahaan yang melakukan divestasi akan berpotensi nilai sahamnya turun.


  7. Proyeksi Kinerja Perusahaan

    Performa atau kinerja perusahaan sering menjadi acuan bagi para investor dalam mengkaji saham sebuah perusahaan. Beberapa faktor yang sering menjadi sorotan adalah tingkat dividen tunai (cash dividend), tingkat rasio utang (debt ratio), rasio nilai buku (price to book value), laba per saham (earnings per share), dan tingkat laba suatu perusahaan.


    Perusahaan yang memiliki tingkat dividen tinggi biasanya disukai oleh para investor, sehingga harga saham mereka cenderung naik. Begitu pula dengan perusahaan yang memiliki PBV rendah. Perusahaan dengan PBV dibawah 1 artinya memiliki saham yang undervalued, membuatnya layak untuk dipertimbangkan.



Kesimpulan

Nah, itulah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi volatilitas harga saham. Dengan mengetahui segala faktor tersebut, tentunya kita akan lebih terbantu dalam membuat keputusan ketika berinvestasi di pasar equity ini.

Yuk, jadilah investor yang cerdas dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Selamat berinvestasi!

PLGL::v2/landing.h2.blog